Lewati ke isi utama
Desa SanggeKecamatan Klego · Kabupaten Boyolali

Profil Desa Sangge

Visi dan Misi Desa Sangge

Visi

"Terwujudnya Masyarakat Desa Sangge yang Sejahtera, Kreatif, Inovatif dan Bermartabat"

Misi

  1. 1

    Mewujudkan aparatur pemerintah desa yang bersih, inovatif dan profesional.

  2. 2

    Meningkatkan pembangunan, pemeliharaan dan peningkatan bidang pendidikan, kesehatan, pekerjaan umum dan penataan ruang, kawasan permukiman, kehutanan dan lingkungan hidup, perhubungan, komunikasi dan informatika.

  3. 3

    Meningkatkan pembinaan kepada lembaga kemasyarakatan, pemuda dan olahraga dan karang taruna, organisasi perempuan, kesenian sosial budaya, kerukunan umat beragama, lembaga adat, dan anak usia dini.

  4. 4

    Meningkatkan pemberdayaan masyarakat desa dalam pertanian dan peternakan, peningkatan kapasitas aparatur desa, pemberdayaan perempuan, perlindungan anak dan keluarga.

  5. 5

    Meningkatkan penanggulangan bencana darurat dan mendesak di desa.

Struktur Organisasi dan Tata Kerja Pemerintah Desa Sangge

Kepala Desa

Mahmudi

Sekretaris Desa

Plt. Budi Utomo

Kepala Urusan Umum dan Perencanaan

Budi Utomo

Kepala Urusan Keuangan

Paramita Suci, S.E.

Kepala Seksi Pemerintahan

Haris Hidayanto

Kepala Seksi Kesejahteraan dan Pelayanan

Fajar Syamra Na'im

Kepala Dusun I

Haris Hidayanto

Kepala Dusun II

Adib Kristiyono

Kepala Dusun III

Arif Setiyadhi

Sejarah dan Legenda Desa

Sejarah Desa

Desa Sangge turut mengalami berbagai dinamika dalam perjalanan sejarah Indonesia. Pada tahun 1942, Desa Sangge berada dalam wilayah Indonesia yang mengalami pendudukan Jepang. Setelah tiga tahun masa pendudukan, Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945 oleh Ir. Soekarno dan Drs. Mohammad Hatta. Setelah kemerdekaan, Desa Sangge juga turut mengalami berbagai peristiwa penting dalam perjalanan sejarah Indonesia, termasuk situasi politik pada masa G30S/PKI. Perkembangan kehidupan demokrasi masyarakat kemudian terlihat melalui pelaksanaan Pemilu kedua pada tahun 1971.

Sebelum Indonesia merdeka, Desa Sangge telah memiliki pemerintahan yang dipimpin oleh Wiryo Witono pada tahun 1914–1954. Setelah masa kepemimpinannya berakhir, pemerintahan desa dilanjutkan oleh Soma Kartiko, meskipun masa kepemimpinannya belum diketahui secara pasti.

Pada tahun 1970–1979, Desa Sangge dipimpin oleh H. D. S. Tullow sebagai pejabat kepala desa. Pada periode ini, tata pemerintahan Desa Sangge mulai berkembang. Hal tersebut ditandai dengan pembangunan Balai Desa Sangge pada tahun 1973 serta penataan posisi perangkat desa.

Pemilihan kepala desa mulai dilaksanakan pada tahun 1980, dengan Sri Haryati sebagai kepala desa terpilih. Setelah masa kepemimpinannya berakhir, pemerintahan Desa Sangge kembali dipimpin oleh pejabat kepala desa, yaitu Ichsanudin. Selanjutnya, Tumirin terpilih sebagai kepala desa dan memimpin hingga tahun 1997. Setelah terjadi kekosongan jabatan, Ichsanudin kembali menjabat sebagai kepala desa pada tahun 1998. Pemilihan kepala desa berikutnya menghasilkan Sukidi sebagai kepala desa terpilih.

Pada periode berikutnya, Nadhifah menjadi kepala desa perempuan kedua yang memimpin Desa Sangge selama dua periode, yaitu dari tahun 2007 hingga 2018. Selanjutnya, pada tahun 2019, Mahmudi terpilih sebagai Kepala Desa Sangge. Kepemimpinan baru tersebut membawa gagasan untuk terus memajukan Desa Sangge melalui berbagai bidang dengan menyesuaikan program pembangunan pada potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia yang dimiliki desa.

Potensi Desa Sangge antara lain meliputi bidang perkebunan, peternakan, dan berbagai potensi lokal lainnya. Pengembangan potensi tersebut didukung oleh masyarakat dan seluruh perangkat desa sebagai upaya mewujudkan pembangunan serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat Desa Sangge secara berkelanjutan.

Legenda Desa

Desa Sangge dipercaya bermula dari sebuah tempat persinggahan Raden Ayu Nyai Serang bersama para pengikutnya sekitar tahun 1840, ketika beliau sedang memimpin pasukan dalam perjuangan melawan pemerintah kolonial Belanda. Dalam perjalanan tersebut, Raden Ayu Nyai Serang berhenti di suatu tempat dan mendirikan sebuah pesanggrahan sebagai tempat beristirahat bersama para pengikutnya.

Pada saat pembangunan pesanggrahan berlangsung, salah seorang pengikut setianya, Kiai Pundak, mengalami sakit-sakitan dan membutuhkan tempat untuk beristirahat. Pembangunan pesanggrahan kemudian dipercepat, yang dalam bahasa Jawa disebut angge-age, dengan cara diberi penyangga atau disangga. Dari peristiwa tersebut, masyarakat setempat kemudian mengaitkan asal-usul nama Sangge dengan kata sangga dan angge-age.

Setelah pesanggrahan selesai dibangun, Kiai Pundak meninggal dunia dan dimakamkan di sekitar tempat tersebut. Makam yang dikenal sebagai Makam Eyang Pundak hingga kini masih dihormati dan menjadi salah satu tempat yang dikunjungi masyarakat dalam pelaksanaan tradisi tertentu.

Selain kisah tersebut, terdapat sejumlah peninggalan yang dipercaya berkaitan dengan persinggahan Raden Ayu Nyai Serang di Sangge, antara lain Batu Tumpeng di Sendang Sangge, Batu Lesung di utara Dukuh Sangge, bekas Kaunderan di timur Sendang Sangge, makam, Jembangan, serta Pasar Pon atau Pasar Mati yang dahulu berada di sekitar Lapangan Sangge dan kemudian berpindah ke Pasar Klego. Berbagai peninggalan dan cerita tersebut menjadi bagian dari legenda serta identitas Desa Sangge yang terus diwariskan secara turun-temurun.

Peta Lokasi Desa

Batas Wilayah Desa

Utara
Desa Banyurip
Timur
Desa Beji, Kecamatan Andong
Selatan
Desa Kalangan dan Desa Sendangrejo
Barat
Desa Bade dan Desa Blumbang

Luas Desa

447 Ha

Jumlah Penduduk

3.675 jiwa